Jenis Obligasi Dan Risiko Kerugian

Sebelum memulai investasi, ada beberapa Jenis Obligasi Dan Risiko Kerugian yang perlu anda pelajari. Sehingga anda tidak mengalami rugi atau tidak balik modal di kemudian hari.

Obligasi merupakan salah satu instrumen investasi yang saat ini cukup diminati oleh para investor. Khususnya obligasi dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) Ritel.

Sekedar untuk tambahan informasi, SBN merupakan salah satu jenis onlogasi. Akan tetapi diterbitkan oleh pemerintah atau juga dikenal dengan sebutan Obligasi Negara.

Sedangkan untuk jenis lainnya, obligasi dirilis oleh perusahaan atau yang dikenal dengan obligasi korporasi.

Jenis Obligasi Dan Risiko Kerugian

Sebelum lanjut pada jenisnya, kami akan memaparkan pengertian dari obligasi itu sendiri. Sehingga anda lebih paham dengan apa yang nantinya menjadi aset investasi.

Obligasi adalah sebuah bukti pinjaman atau utang yang diberikan oleh investor kepada penerbit obligasi.

Obligasi sendiri diterbitkan oleh pemerintah ataupun perusahaan dalam mata uang rupiah dan juga valuta asing.

Sedangkan untuk tujuannya, penerbitan obligasi yang paling utama ditujukan untuk pendanaan serta pengembangan.

Sebagai salah satu contoh obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, jenis investasi ini akan digunakan untuk membiayai kebutuhan anggaran pemerintah. Tidak terkecuali menutup defisit Anggaran Pendapatan.

Saat diterbitkan, tentu obligasi mempunyai nilai nominal, tingkat kupon yang akan diberikan sebagai imbalan pada pemberi pinjaman. Sekaligus jatuh tempo pelunasan pokok utang.

Untuk saat ini, obligasi merupakan salah satu jenis investasi yang masuk kategori instrumen pendapatan tetap di pasar modal.

Jenis-Jenis Obligasi

Setidaknya terdapat 6 jenis obligasi yang saat ini familiar di kalangan masyarakat. Mungkin saja anda tertarik dengan salah satunya.

1. Obligasi Negara

Obligasi ini merupakan surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah. Jenis investasi ini mempunyai waktu jatuh tempo lebih dari 12 bulan, atau bahkan bisa hingga 5, 10, 20 dan bahkan 50 tahun.

Obligasi negara ada yang mempunyai tingkat kupon tetap (fixed rate) ataupun variabel (variable rate). Bisa disebut jika Obligasi Negara merupakan salah satu bentuk Surat Utang Negara (SUN).

Dalam hal ini, SUN terbagi lagi menjadi SPN (Surat Perbendaharaan Negara) dan Obligasi Negara.

Perbedaan SPN dan Obligasi negara terletak pada jangka waktu jatuh tempo. Dimana SPN mempunyai jatuh tempo masimum 12 bulan, sedangkan Obligasi Negara mempunyai jangkaw aktu lebih dari 12 bulan.

2. Obligasi Korporasi

Obligasi yang satu ini diterbitkan oleh sebuah perusahaan termasuk diantaranya BUMN dan BUMD.

Uniknya, obligasi ini juga diterbitkan dengan tingkat bunga tetap dan variabel.

3. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) / Sukuk Negara

Jenis obligasi yang satu ini diterbitkan oleh pemerintah. Namun dengan menerapkan prinsip syariah.

4. Sukuk Korporasi

Merupakan jenis obligasi korporasi yang diterbitkan berdasar pada efek syariah.

5. Obligasi Negara Retail (ORI)

Merupakan jenis obligasi pemerintah yang dijual secara retail pada masyarakat melalui agen penjual yang ditunjuk oleh meperintah pula.

6. Efek Beragun Aset (EBA)

Ialah sejenis obligasi yang mempunyai efek sifat utang dan diterbitkan dengan underlaying asset sebagai dasar penerbitan. Umumnya bentuk ini merupakan sekuritasi aset.

Peringkat Obligasi & Kupon

Membahas lebih lanjut, obligasi diperingkat oleh lembaga pemeringkat atau yang dikenal dengan sebutan rating agency.

Semakin baik pemeringkatannya, maka akan semakin kredibel penerbit obligasi atau issuer. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya kupon yang diberikan.

Begitupun sebaliknya, makin rendah peringkat obligasi, maka akan semakin tinggi juga kupon yang diberikan. Hal ini berlaku karena berperan sebagai kompensasi atas risiko yang harus ditanggung oleh investor.

Dengan semakin rendahnya peringkat obligasi, menjadi cermin semakin tinggi pula risiko gagal bayar dari obligasi tersebut.

Obligasi yang dinilai baik ialah yang masih kategori layak investasi atau investment grade. Oleh karena itu, saat anda memilih obligasi. Maka sangat penting untuk mempertimbangkan peringkat agar terhindar dari risiko gagal bayar.

Untuk obligasi yang diterbitkan pemerintah dianggap mempunyai risiko default atau gagal bayar yang rendah.

Sedangkan untuk kupon obligasi sendiri, bisa berupa fixed rate (FR) atau variable rate (VR).

Fixed rate merupakan tingkat kupon yang tetap sejak penerbitan hingga jatuh tempo. Dan variable rate merupakan tingkat kupon yang bisa turun naik.

Secara umum, yang dipergunakan ialah tingkat suku bunga sebagai acuan dan ditambah dengan persentase tertentu.

Meski begitu, terdapat pula obligasi yang tidak mempunyai kupon atau zero coupon. Akan tetapi obligasi ini dijual dalam bentuk diskon pada pasar perdana serta akan dibayarkan penuh ketika jatuh tempo.

Kupon obligasi umumnya dibayarkan secara regular dengan periode tertentu dari penerbitan hingga jatuh tempo.

Sebagai contoh ialah obligasi pemerintah seri FR, pembayaran kupon setiap 6 bulan sekali. Dan untuk seri VR setiap 3 bulan sekali.

Keuntungan Obligasi

Yang namanya investasi, pasti investor mencari untung dari modal yang mereka tanamkan. Adapun untuk keuntungan utama dalam hal investasi obligasi ialah kupon.

Kupon yang dimaksud berupa imbal hasil yang diberikan oleh penerbit obligasi kepada para investor.

Umumnya kupun ini dibayarkan secara regular dari penerbitan hingga jatuh tempo. Serta pembayaran bunga lebih tinggi dibanding dengan deposito.

Sedangkan keuntungan kedua ialah capital gain. Keuntungan ini diperoleh dari selisih harga beli dan harga jual.

Risiko Obligasi

Meski terbilang menarik dari sisi potensi meraup keuntungan. Tidak berbeda dengan jenis intrumen investasi yang lain. Obligasi juga mempunyai tingkat risiko. Beberapa diantaranya ialah :

1. Risiko Gagal Bayar / Default

Yakni berupa ketidakmampuan penerbit obligasi dalam hal membayar kupon ataupun melunasi obligasi pada saat jatuh tempo.

2. Risiko Suku Bunga

Pergerakan dari harga obligasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga acuan dengan hubungan berbanding terbalik.

Apabila investor memperkirakan suku bunga acuan akan turun, maka mereka bisa memilih atau memegang obligasi atau membeli obligasi serta sebaliknya.

3. Risiko Pasar

Investor juga akan dihadapkan dengan potensi kerugian (capital loss) saat harga obligasi di pasar sekunder turun akibat beberapa faktor yang berpengaruh pada kinerja keseluruhan dari pasar keuangan.

Beberapa hal yang ikut berpengaruh tersebut tidak luput dari perubahan suku bunga, perubahan ekonomi, dan juga kondisi politik yang sedang tidak stabil.

4. Risiko Likuiditas

Mungkin risiko ini cukup jarang terjadi jika perusahaan yang menerbitkan obligasi tidak mengalami kebangkrutan.

Risiko ini menjadikan investor tidak bisa menjual kembali obligasi yang dimiliki di pasar sekunder. Hal tersebut lantaran beberapa hal dan juga harus menunggu hingga jatuh tempo.

Kembali pada investasi secara umum, apapun bentuknya yang dipilih. Tentu harus memperhatikan beberapa aspek yang ikut berpengaruh.

Adapun bentuk obligasi ataupun intrumen investasi lain yang sudah dipilih. Akan lebih baik jika disesuaikan dengan profil risiko finansial anda.

Melihat Jenis Obligasi Dan Risiko Kerugian di atas, tentu anda sudah bisa paham dengan beberapa poin terkait obligasi.

Untuk langkah lebih lanjut, semua kembali pada diri investor masing-masing.

Scroll to Top